Rabu, 31 Oktober 2012
Senin, 29 Oktober 2012
Telinga untuk Hatiku
jika saja perasaan itu berbentuk, entahlah.. dia boleh mengambil bentuk apapun yang dia suka. mawar, kapas, air, balon, tebing, pantai, sayap, boneka.. atau apalah, yang penting berbentuk.
mungkin akan sangat membantu aku menjelaskan apa yang sangat ingin kujelaskan.
tentang mimpi, tentang kekecewaan, tentang kebingungan, tentang kesendirian, tentang kesedihan...
hmm,
hai perasaanku yang manis, ada apa denganmu?
sakit..
apa? apa yang sakit?
tubuhku..sakit sekali..
apa kau terluka?
ya, banyak sekali lukaku, sampai tidak pernah aku bisa menghitungnya
tenanglah, biarkan aku merawatmu. kemarilah
cobalah....
dimana? mana lukanya? kau sangat bersih, rapi, indah. kau tersenyum... tidak ada yang salah padamu. lalu kenapa kau bilang bahwa kau kesakitan?
itulah bagian yang paling menyakitkan, ketika aku merasa sangat sakit, namun bahkan kau pemiliknya pun tidak dapat melihat lukaku. semuanya memang kututup rapat-rapat, agar tak pernah menyentuh perasaan-perasaan orang lain di sekitarku.. namun aku membuat kesalahan yang paling besar, aku menutupnya terlalu rapat sampai bahkan aku sendiri tak mampu melihatnya.. sakit.. sakit sekali ketika darah darah itu mengaliri semua yang ada didalamku, tanpa mengering, tapi juga tak pernah keluar.. seandainya bisa, akan kubusukan saja darahdarah ini agar bisa lebih mudah kutemukan dengan baunya yang menyengat, lalu membuangnya jauh-jauh..
maafkan aku.
kenapa?
karena aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untukmu, perasaanku yang cantik.. maaf.
tidak! apa yang kau lakukan saat ini sudah membuatku lebih baik.
oh ya? kenapa?
karena yang aku butuhkan hanya telinga untuk mendengarku. terimakasih.
-beatric
Minggu, 28 Oktober 2012
Meski Tanpa Sayap
biarkan sekali ini saja kuluapkan kecintaanku pada sosok ini..
dia adalah manusia yang penuh kelemahan, kekurangan, ketakutan, ketidakberdayaan... coba saja, palingkan sebentar wajahmu menghadapnya. dan kau akan melihat betapa rapuh dan sakitnya dia. manusia tak bertulang, tak berduri, tak bersayap, juga tak punya kekuatan bahkan untuk balas menatapmu. lemah.
jangan dulu engkau berpaling dari ketidaksempurnaannya.. mari, tengok sekali lagi. namun kali ini, hadapkan wajahmu tepat di depan wajahnya yang kuyu, lalu tutuplah matamu.
apa yang kau lihat?
nampakkah segala yang mencuat di mataku dalam matamu juga?
apakah kau juga melihat cahaya yang kulihat? tidak, bukan cahaya yang benderang, bukan. hanya titik titik lemah nyala kuning redup yang mencoba tetap kokoh dalam kepekatan pejaman mataku. redup, sangat redup.. namun kokoh, tak bergeming sedikitpun. keredupan inilah yang membuatku tetap sadar meski berada dalam pekatnya masaku bernapas...
sekarang, tajamkanlah telingamu.
nah, apa kau dengar itu? ya, suara napasnya. dengarkanlah baik-baik tiap hembusan yang ia usahakan setengah mati itu. apakah terdengar juga ditelingamu bahwa di tiap hembusan napasnya dia menerbangkan sebuah pesan? jika kau ijinkan pesannya menggelitik telingamu, kau akan selalu mendengar 'aku menyayangimu'...
kini, rasakanlah keberadaannya. apakah terasa di kulitmu ia menyentuhmu? bukan, bukan sentuhan nyata karena tangannya terlalu lemah untuk menggapaimu. namun resapilah kehangatan yang melingkupinya dan kemudian menyebar memelukmu, merangkulmu didalamnya. hangat bukan? ya, sentuhan ini begitu hangat karena dia tidak mencoba menyentuh tubuhmu, namun merangkul dan menguatkan hatimu, membalut luka-luka hatimu dengan cintanya...
jika kau tak bisa melihat, mendengar, serta merasakan apa yang kugambarkan, tak apa.. setidaknya kini kau mengerti betapa aku mengaguminya. karena keindahan sosoknya hanya bisa dirasakan oleh jiwa dan hati yang bertaut dalam kefanaan dunia sementara ini. hanya kami.
pulanglah kerumahmu, berlututlah di hadapan ibumu, dan satu hal kujanjikan padamu, kau akan bisa melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi pada hidupku yang abu-abu. Ya, akan kau temukan semua itu di dalamnya. telan segala keindahannya, simpan rapat-rapat dalam hati.
dia adalah bukti nyata kasih yang maha Esa kepadamu.
(teruntuk bidadari berhati baja milikku, Yuliana Mega Wardhani. mama)
-beeatric
Langganan:
Postingan (Atom)