Rabu, 31 Oktober 2012

Sesuatu Tentang Profesiku

*true story*
Marsupialisasi, sebuah apresiasi untuk para dokter dan perawat :)
by Avina Nadhila Widarsa on Tuesday, September 25, 2012 at 1:19am ·
diharapkan kita besok sebagai calon tenaga medis bisa seperti itu, memberi pelayanan kesehatan yang maksimal :)

Marsupialisasi

Itu judul tindakan yang dilakukan dokter terhadap saya beberapa hari yang lalu. Marsupialisasi semacam teknik bedah yang digunakan untuk menghilangkan kista dengan memotong celah ke dalam kista dan menjahit tepi celah untuk membentuk permukaan yang terus menerus dari permukaan eksterior ke interior kista. Tulisan ini saya dedikasikan untuk para tenaga medis yang telah membantu saya melewati “masa-masa sulit” sebelum, ketika dan sesudah saya menjalani tindakan tersebut. Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk rekan-rekan saya mahasiswa FK dan FIK yang sedang berjuang memperoleh gelar profesi maupun rekan-rekan mahasiswa yang sedang berjuang meraih gelar sarjana.

Ceritanya, saya habis dioperasi hari Kamis, 20 September 2012 pukul 20.05 SGT. Itu jam terakhir yang saya ingat sebelum dokter anastesi berhasil “menidurkan” saya dengan uap yang dimasukkan ke dalam mulut sebelum operasi dimulai. Kenapa saya harus operasi dan bagaimana keadaan saya sebelum operasi mungkin bisa dibaca lebih lengkap di blog saya :)

Ya, operasi, masuk ke ruang bedah, bertemu dokter anastesi, di”belek” salah satu bagian tubuh, dijahit kembali, dan selesai. Anda mungkin kaget mengetahui saya dengan mudahnya mengambil keputusan “operasi” seperti mengambil keputusan akan makan siang apa hari ini. Apalagi, ketika saya operasi kemarin, tidak ada keluarga atau teman yang mendampingi. Sendirian dan mengalami kondisi gawat darurat di negeri orang memang tidak menyenangkan. Tapi, saya lebih merasa bersalah jika saya harus memaksa teman-teman atau keluarga saya untuk mendampingi saya di rumah sakit dan masuk ke ruang operasi. Katakanlah saya mandiri, terlalu mandiri kata teman saya.

Hari Kamis itu, dengan Taxi, saya pergi ke klinik O&G KK Hospital jam 9 pagi, sendiri, karena saya sudah tidak tahan lagi menahan sakit yang sudah saya rasakan seminggu berjalan. Sampai di KK Hospital, dengan tertatih-tatih saya berjalan menuju klinik dan akhirnya diperiksa oleh dokter sekitar jam 10. Pada saat diperiksa, saya sudah mengetahui penyakit saya cukup parah. Dokter menyarankan dua opsi, operasi atau beliau bisa memberikan obat pengurang rasa sakit namun sifatnya hanya sementara. Sehari sebelumnya, saya skip kelas S6007 karena tidak tahan lagi untuk berjalan, duduk dan berdiri. Saya pergi ke klinik NTU dan dokter di sana juga mengatakan infeksi yang saya derita sudah parah dan harus diambil tindakan operasi. Maka, di ruang konsultasi klinik itu saya menandatangani surat pernyataan kesediaan operasi dan siap menanggung semua resikonya sendiri.

Tuhan Maha Baik, walaupun saya tidak ditemani siapa-siapa saat itu, Alhamdulillah proses berjalan cukup lancar. Saya sangat kagum sekali dengan kerja keras para dokter dan suster di rumah sakit itu. Saya memang tidak pernah bermimpi (walaupun pernah ikut tes masuk fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Indonesia) menjadi dokter, suster, atau tenaga medis lainnya. Jujur, saya tidak ada bayangan seperti apa kehidupan yang dijalani para mahasiswa kedokteran atau keperawatan setelah lulus. Walaupun teman-teman saya banyak yang dari FK dan FIK, saya hanya tau, setelah sarjana mereka masuk klinik, tanpa tau bagaimana kondisi mereka sebenarnya.

KK Hospital adalah salah satu rumah sakit pemerintah di Singapura, di mana pernah tercatat rekor dunia sebagai tempat melahirkan manusia terbanyak pada era 50, 60 hingga 70an. Rumah sakit ini adalah rumah sakit tempatnya para calon perawat dan calon dokter (khususnya yang mengambil spesialis obgyn dan anak) belajar praktek. Selama dua hari saya dirawat, interaksi saya dengan para student nurse dan dokter muda cukup intens sehingga saya jadi tahu betul apa yang mereka lakukan selama “jaga”.

Dioperasi di waktu yang cukup malam, saya melihat para surgeons dan dokter anastesi masih bisa menyapa saya dengan senyum, walau sebelumnya mungkin sudah beberapa orang yang mereka tangani, termasuk kasus operasi Caesar yang membutuhkan tenaga luar biasa. Dokter adalah suatu profesi yang mulia sekali, dan tentu saja perawat juga merupakan profesi yang tidak kalah mulianya. Saya sadari itu selama saya berada di rumah sakit. Menyaksikan betapa para perawat dengan sabarnya melayani pasien-pasien rawat inap, menanyakan keadaan dan memberikan pendampingan pasca operasi (di mana saat itu saya benar-benar sendirian) membuat penilaian saya berubah terhadap mereka.

Sebelum masuk ruanng operasi, saya menganggap pekerjaan dokter dan perawat tidak begitu istimewa. Sama dengan pekerjaan seorang pengacara, politisi, atau insinyut. Namun, setelah keluar dari ruang operasi saya sadar, penilaian saya salah. Para perawatlah yang betul-betul membantu saya ketika saya harus menunggu giliran untuk operasi di ruang rawat inap (ward) dan dengan sabarnya membantu saya dalam melakukan segala hal. Mulai dari berganti pakaian, memasangkan infus hingga menengangkan hati saya yang gelisah karena giliran operasi tidak kunjung datang. Beberapa diantara yang merawat saya bahkan masih berstatus sebagai nurse student. Bahkan, nurse student lah yang mengantar saya masuk ke ruang operasi dengan menggunakan kursi roda.

Memang, terdapat perbedaan perlakuan yang diberikan oleh nurse student dan senior nurse. Contohnya, waktu saya dibawa ke ruang operasi, nurse student yang mengantar saya lupa membawa kartu akses dan sempat salah masuk pintu ruangan. Beliau memang baru pertama kali mengantarkan pasien ke ruang operasi, dan untungnya pasien tersebut adalah saya J Di sini saya juga melihat betapa baiknya dokter-dokter dan para tenaga medis di ruang operasi yang berkali-kali “minta maaf” karena operasi saya terpaksa diundur sebab ada kasus emergency ibu melahirkan. Saya akhirnya menunggu 1,5 jam lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan. Walaupun sempat “gondok” karena tidak segera dioperasi, namun semua kekesalan itu hilang seketika setelah mendapatkan pelayanan maksimal dari mereka.

Saya yang sendiri, jadi tidak merasa sendiri. Sebelum operasi, dokter anastesi menanyakan identitas, riwayat kesehatan, riwayat obat, berat-tinggi badan dan beberapa pertanyaan prosedural lainnya. Ia juga menjelaskan mengenai resiko yang akan saya alami ketika memilih opsi anastesi, disuntik atau ditidurkan. Ketika sadar setelah operasi, saya merasa sakit sekali dan dokter dengan sigap memberi suntikan morfin untuk menghilangkan rasa sakit tersebut. Saat saya sadar, waktu telah menunjukkan pukul 21.54 SGT, artinya 1,5 jam lebih saya berada di ruang bedah, tidak sadarkan diri. Menyadari waktu sudah malam sekali, saya melihat para dokter “bergembira” karena pasien terakhir yang harus mereka operasi sudah beres. Betapa beratnya kerja mereka, menolong orang lain, bahkan hingga malam hari di saat “orang-orang kebanyakan” sudah bisa tertidur pulas. Namun, beberapa dokter dan perawat justru harus stay awake demi tuntutan profesi. Saya jadi berpikir, seharusnya syarat masuk untuk menjadi mahasiswa fakultas kedokteran selain pintar mereka harus tahan banting dan punya hati yang luar biasa baiknya untuk menolong orang lain. Begitu juga dengan syarat menjadi perawat.

Perawat inilah yang mengambil alih tugas dokter setelah selesai saya dioperasi. Saya jadi paham bagaimana rekan-rekan saya, mahasiswa Ilmu Keperawatan menuntut adanya UU Keperawatan agar status profesi mereka disamakan dengan status profesi tenaga medis setara dokter. Mereka bekerja luar biasa dan tidak kenal lelah, melayani pasien 24 jam. Saya kembali ke ward sekitar pukul 11 malam. Sampai di tempat tidur, karena lapar saya meminta minum dan makanan ringan yang segera diantarkan langsung oleh perawat. Semua hal yang saya minta betul-betil mereka layani, mulai dari urusan ke kamar kecil hingga membuka kunci loker. Saat itu saya betul-betul merasa profesi ini adalah profesi mulia dan hanya orang-orang terpilih yang bisa menjalaninya.

Saya membayangkan betulkah banyak pria/wanita yang ingin memiliki istri/suami seorang dokter atau perawat, sebab dengan tuntutan profesi yang sedemikian tinggi pasti ada waktu yang dikorbankan untuk keluarga dan pribadi. Saran saya, jika Anda ingin mempunyai pasangan hidup seorang dokter/perawat, pahami dulu seluk beluk profesinya dan persiapkan diri Anda untuk menerima tuntutan kerja mereka yang tidak biasa ;)

Intinya, terima kasih perawat dan dokter :)

Senin, 29 Oktober 2012

Telinga untuk Hatiku


jika saja perasaan itu berbentuk, entahlah.. dia boleh mengambil bentuk apapun yang dia suka. mawar, kapas, air, balon, tebing, pantai, sayap, boneka.. atau apalah, yang penting berbentuk.
mungkin akan sangat membantu aku menjelaskan apa yang sangat ingin kujelaskan.
tentang mimpi, tentang kekecewaan, tentang kebingungan, tentang kesendirian, tentang kesedihan...
hmm, 

hai perasaanku yang manis, ada apa denganmu? 
sakit..
apa? apa yang sakit?
tubuhku..sakit sekali..
apa kau terluka?
ya, banyak sekali lukaku, sampai tidak pernah aku bisa menghitungnya
tenanglah, biarkan aku merawatmu. kemarilah
cobalah....
dimana? mana lukanya? kau sangat bersih, rapi, indah. kau tersenyum... tidak ada yang salah padamu. lalu kenapa kau bilang bahwa kau kesakitan?
itulah bagian yang paling menyakitkan, ketika aku merasa sangat sakit, namun bahkan kau pemiliknya pun tidak dapat melihat lukaku. semuanya memang kututup rapat-rapat, agar tak pernah menyentuh perasaan-perasaan orang lain di sekitarku.. namun aku membuat kesalahan yang paling besar, aku menutupnya terlalu rapat sampai bahkan aku sendiri tak mampu melihatnya.. sakit.. sakit sekali ketika darah darah itu mengaliri semua yang ada didalamku, tanpa mengering, tapi juga tak pernah keluar.. seandainya bisa, akan kubusukan saja darahdarah ini agar bisa lebih mudah kutemukan dengan baunya yang menyengat, lalu membuangnya jauh-jauh..
maafkan aku.
kenapa?
karena aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untukmu, perasaanku yang cantik.. maaf.
tidak! apa yang kau lakukan saat ini sudah membuatku lebih baik.
oh ya? kenapa?
karena yang aku butuhkan hanya telinga untuk mendengarku. terimakasih.

-beatric

Minggu, 28 Oktober 2012

Meski Tanpa Sayap


biarkan sekali ini saja kuluapkan kecintaanku pada sosok ini..

dia adalah manusia yang penuh kelemahan, kekurangan, ketakutan, ketidakberdayaan... coba saja, palingkan sebentar wajahmu menghadapnya. dan kau akan melihat betapa rapuh dan sakitnya dia. manusia tak bertulang, tak berduri, tak bersayap, juga tak punya kekuatan bahkan untuk balas menatapmu. lemah.

jangan dulu engkau berpaling dari ketidaksempurnaannya.. mari, tengok sekali lagi. namun kali ini, hadapkan wajahmu tepat di depan wajahnya yang kuyu, lalu tutuplah matamu.

apa yang kau lihat?
nampakkah segala yang mencuat di mataku dalam matamu juga?
apakah kau juga melihat cahaya yang kulihat? tidak, bukan cahaya yang benderang, bukan. hanya titik titik lemah nyala kuning redup yang mencoba tetap kokoh dalam kepekatan pejaman mataku. redup, sangat redup.. namun kokoh, tak bergeming sedikitpun. keredupan inilah yang membuatku tetap sadar meski berada dalam pekatnya masaku bernapas...
sekarang, tajamkanlah telingamu.
nah, apa kau dengar itu? ya, suara napasnya. dengarkanlah baik-baik tiap hembusan yang ia usahakan setengah mati itu. apakah terdengar juga ditelingamu bahwa di tiap hembusan napasnya dia menerbangkan sebuah pesan? jika kau ijinkan pesannya menggelitik telingamu, kau akan selalu mendengar 'aku menyayangimu'...
kini, rasakanlah keberadaannya. apakah terasa di kulitmu ia menyentuhmu? bukan, bukan sentuhan nyata karena tangannya terlalu lemah untuk menggapaimu. namun resapilah kehangatan yang melingkupinya dan kemudian menyebar memelukmu, merangkulmu didalamnya. hangat bukan? ya, sentuhan ini begitu hangat karena dia tidak mencoba menyentuh tubuhmu, namun merangkul dan menguatkan hatimu, membalut luka-luka hatimu dengan cintanya...


jika kau tak bisa melihat, mendengar, serta merasakan apa yang kugambarkan, tak apa.. setidaknya kini kau mengerti betapa aku mengaguminya. karena keindahan sosoknya hanya bisa dirasakan oleh jiwa dan hati yang bertaut dalam kefanaan dunia sementara ini. hanya kami.

pulanglah kerumahmu, berlututlah di hadapan ibumu, dan satu hal kujanjikan padamu, kau akan bisa melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi pada hidupku yang abu-abu. Ya, akan kau temukan semua itu di dalamnya. telan segala keindahannya, simpan rapat-rapat dalam hati.
dia adalah bukti nyata kasih yang maha Esa kepadamu.


(teruntuk bidadari berhati baja milikku, Yuliana Mega Wardhani. mama)

-beeatric
 

Blog Template by YummyLolly.com - Header made with PS brushes by gvalkyrie.deviantart.com
Sponsored by Free Web Space