Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia
“Kisah Perjuangan Para Cendekia”
JANGAN DENGARKAN AKU
Mengabaikan, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi jika yang harus diabaikan tidak hanya berlokasi di luar diri, namun juga menggebu-gebu di dalam hati sang pemilik. Sekiranya itulah yang aku lalui.
Tak hanya satu dua kali manusia-manusia yang mengatasnamakan ‘peduli’ mencoba menjatuhkan aku dan mimpiku. “Terlalu tinggi, akan terlalu pedih bila sampai jatuh,” katanya. Terimakasih untuk motivasinya kawan, aku akan berusaha menguatkan usahaku untuk bertahan jika katamu akan sangat pedih saat jatuh. Tidak, aku tidak mau jatuh. Aku akan berpegangan lebih kuat.
Kata-kata mereka tak pernah begitu mengganggu pendirianku. Namun hatiku, dia melecehkanku. “Memangnya kamu bisa?” sindirnya. Disinilah aku mulai diam, dan menangisi ketidakpatuhan hati dan otakku untuk bekerja sama.
Baiklah, memang bukan tanpa alasan semua orang meragukan keputusanku. Ditilik dari bagaimana masa-masa SMA yang kulalui penuh keringat dan sedikit ‘darah’. Awalnya, aku berhasil diterima di sebuah SMA negri yang cukup bergengsi menurutku. Namun karena sebuah trauma masa lalu tentang diskriminasi kaum minoritas, aku mundur. Kuikuti saran papaku untuk mendaftar di sebuah SMA swasta kenamaan di kota Yogyakarta. Aku tahu segala bentuk pembiayaan di sekolahku nanti takkan ada yang di bawah standar, tapi kuturuti saja apa kata papa, karena saat itu keluargaku masih utuh dan berkecukupan. Saat itu. Hanya sedikit pertimbangan, dan sampailah aku pada sebuah keputusan yang sepenuhnya salah, awalnya.
Hari-hari pertama mengalir lancar, sehingga rasanya benar-benar seperti ditampar bata merah ketika papa memutuskan pergi melepaskan semua tanggung jawabnya. Tentu saja ada imbasnya untukku ; biaya. ‘Mau membayar dengan apa aku di sekolah mahal ini?’. Selalu muncul pertanyaan itu kapanpun aku berkedip, sungguh mengganggu konsentrasiku dalam belajar. Belum lagi pandangan miring kawan-kawan yang dulunya baik padaku. Mereka menganggapku produk broken-home yang tak layak dimasukkan ke daftar komunitas elit mereka.
Sesungguhnya, aku sangat bahagia pernah mengalami masa-masa sulit itu. Dimana aku harus bangun pagi, memandikan dua adikku yang kecil dan menyiapkan mereka pergi ke sekolah, setelah itu berlomba dengan waktu menyiapkan makanan-makanan kecil yang akan aku titipkan di kantin sekolahku, barulah aku terbirit-birit menyiapkan diriku sendiri untuk sekolah. Tak sampai disitu lelahku. Aku mengambil kerja paruh waktu di sebuah kedai dekat kampusku sekarang tiap malam. Untuk apa? Untuk membayar SPP. Dan aku masih sering ditertawakan karena kerap tertidur di kelas, terlalu lelah menjaga mataku tetap terbuka.
Ujian akhir yang katanya momok bagi kawan-kawanku, mempunyai pandangan tersediri dalam mataku. Ini adalah pintu megahku keluar dari kelelahanku yang teramat sangat. Tentu saja, tak pernah sedetikpun kubuang waktuku sia-sia mempersiapkan yang terbaik dariku, untukku. Dan, berhasil! Nilai tinggi ada dalam genggamanku!
Lalu apa? Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Untuk apa tinta hitam kebanggaanku ini? Semangatku merosot sampai ke tanah ketika aku memandang total biaya pendidikan di universitas kecintaanku, Universitas Gadjah Mada. Nominal ini membutku angkat tangan. Aku menangis karena merasa semua usahaku bertahun-tahun mengejar nilai memuaskan hanya akan menjadi tinta hitam yang menyakitkan tiap aku memandangnya. Tak ada harapan...
Namun saudaraku, tanamkanlah ini dalam batin, benak, dan seluruh sel-sel dalam dirimu : Tuhan itu adil. Ya, Ia memelihara aku dan kamu dengan luar biasa. Dia beriku tangis agar aku mampu mencapai titik puncak kebahagiaan yang telah ia siapkan dengan segala kesempurnaan. Aku yang hanya menyerahkan berkas-berkas kosong tanpa harapan ke UGM berhasil di terima. Tak tanggung-tanggung, di Fakultas Kedokteran yang terkenal itu, dengan beasiswa penuh dan uang saku. Akankah aku bisa lebih bahagia dari ini?
Kerinduanku untuk diakuipun kini telah memelukku dengan eratnya. Aku punya wadah dan teman-teman yang tak hanya memandang dunia dalam materi, tapi kemampuan. Telah kubuktikan dengan jiwaku sendiri betapa ramahnya kampusku. Berdedikasi, namun tetap sederhana. Hanya disini kurasakan persaingan para cendekia muda yang berselimut kekeluargaan.
Bukan tanpa halangan aku jalani hari-hari perkuliahanku. Rumahku yang tidak dekat dengan kampus mewajibkanku berjalan jauh ke jalan raya untuk menghentikan bis kota yang akan mengantarkanku ke gudang ilmu. Tak jarang aku harus lari sekencang-kencangnya masuk kelas karena bis yang kutumpangi terlalu lama antri di pom bensin. Atau ketika baju yang hanya beberapa helai milikku belum kering benar untuk kukenakan. Aku tidak mengeluh, aku hanya akan menertawakan konsep waktu yang kubuat belum tepat benar untuk mencapai semua yang kuinginkan. Di sini aku belajar mempraktekkan menejemen waktu.
Bukan hanya sekali pula takdir membuat bis yang kutumpangi mogok di tengah jalan, atau bannya yang besar-besar itu bocor mendadak. Makan waktu yang sangat lama untuk menunggunya diperbaiki. Tapi, bukanlah waktu yang sia-sia untuk dihabiskan duduk kepanasan di bangku bis mogok. Sebagian besar waktu menunggu kumanfaatkan mengobrol dengan orang-orang di sekelilingku dalam bis. Dari pengalaman ini kumiliki kemampuan memekakan hati atas kondisi mental dan kepribadian orang. Contohnya, ada yang mulanya diam, bungkam, dan menutup diri dari percakapan, namun jika kuutarakan pertanyaan yang tepat, dia akan berceloteh ria tanpa henti. Ini tipe orang yang hanya ingin didengar. Ada lagi seorang kernet yang sekali pernah menumpahkan isi hatinya padaku, dan mengaku lega setelah bercerita dan berterima kasih. Sebelumnya aku tak pernah menyangka akan ada orang yang berterimakasih padaku karena hal kecil itu. Aku suka menjadi telinga dan mendengar. Pengalaman komunikasi ini nantinya pasti berguna untukku ketika tiba saatnya untuk terjun ke dalam masyarakat.
Lagi, ada saat-saat dimana uang di sakuku ( aku tidak punya dompet, jadi kusimpan semua uang dan barang-barang berhargaku yang tak banyak di saku jaket kesayanganku ) tak mencukupi untuk sekedar makan snack pengganjal perut di siang hari yang sibuk. Jadi saat kawan-kawanku yang baik mengajakku ke kantin, hanya kalimat sederhana yang terucap dari bibirku yang kering : “Aku belum lapar, mungkin nanti aku susul kalian.” Geli rasanya ketika kalimat bohong itu bersuara tepat bersamaan dengan perutku yang memberontak ingin menelan sesuatu. Namun, tak mungkin selamanya aku berbohong bukan? Maka kuputuskan untuk menyiasatinya, dengan memasak dan membawa bekalku sendiri dari rumah, meski hanya mi instan, atau roti tawar tanpa selai. Aku tidak malu, karena disini aku belajar mandiri dan berhemat.
Mungkin bukan aku satu-satunya orang yang mengalami hal-hal ini, itu pasti. Tapi tidak banyak yang melihat masalah-masalah ini dari sudut pandang yang aku lakukan. Kadang aku menertawakan orang-orang yang menangisi kesedihannya tanpa ada satupun nilai yang bisa diambil. Padahal sebenarnya disitulah mereka bisa belajar dan berlatih menjadi pribadi yang sukses. Bukankah sumber pengetahuan bukan hanya dari tinta dalam buku tebal?
Kawanku yang beruntung, terimakasih karena telah mengacuhkan kata-kataku dulu. Karena kini aku menyadari bahwa bukan kata-kata yang akan mengantarkanku pada jenjang sejahtera, namun apa yang aku lakukan. Jangan dengarkan aku. Lihat saja apa yang aku pelajari sekarang, dan apa yang bisa aku perbuat nanti. Dan itu dimulai dari saat ini, lembaran putihku yang baru di Universitas Gadjah Mada yang tercinta.
0 komentar:
Posting Komentar